Jun 12 2008

MORE THANKSGIVING

Published by blesspee under Uncategorized

 

 

Dampak  kenaikan BBM
sungguh luar biasa. Tapi emang sejak dulu situasi pasca kenaikan BBM
selalu heboh kok. Mungkin bedanya, kalo dulu, gak lama setelah
kebijakan diumumkan, meski menimbulkan banyak demo tapi biasanya
tidak cukup lama. Kali ini agak sedikit berbeda. Aksi menentang
kebijakan ini masih berlangsung hingga kini.

Yah, dampak kebijakan
rasanya cukup jelas terlihat, nggak perlu lagi deh diulang-ulang.
Kalo bahasa Fisika waktu masih sekolah dulu : berbanding lurus, naik
BBM naik pula segala macam ongkos (kecuali gaji, kayaknya belum ada
perubahan tuh). Beras yang biasanya kubeli dengan harga Rp. 5.800/kg
sekarang sudah jadi Rp. 6.000/kg. Dulu dengan Rp. 20.000 bisa dapet
minyak goreng merk Tropical 2lt, sekarang…weleh weleh, kudu nambah
Rp. 6.950 dulu baru barangnya bisa dibawa pulang. Itu harga di
supermarket, harga di pasar tradisional bisa lebih mahal. Katanya, di
supermarket bisa lebih murah karena “Kami membeli dalam jumlah
lebih banyak”. Ada-ada aja. Pernah juga waktu suatu kali aku ke
pasar, aku bermaksud beli rempeyek kacang kesukaanku. Sambil
milih-milih rempeyek kacang, aku bertanya “ Rempeyeknya berapa,
Teh?”

Si Teteh berkerudung
berkata, “Biasa Teh, sekarang masih empat ribu, tapi besok sudah
naik, kan bensin  naik,” jawabnya ringan.

Aku menatap pada si Teteh
penjual, takjub dengan kegesitannya menghitung harga pokok produksi
rempeyek jualannya, sambil berkata dalam hati “Tobat deh beli
rempeyek ini, lebih mahal dari harga tempe”.

Hampir semua harga barang
sekarang mulai “bermekaran”, apa lagi alasannya kalo bukan
kenaikan BBM.

Kakak iparku belakangan
ini lumayan sering mengeluh, “ Pusing aku, sekarang apa-apa sudah
naik, tapi gaji gak naik-naik, gimana mau nabung, untuk hidup aja
pontang-panting,”.

Balum lama ini aku sudah
wanti-wanti ke my hubby, “Mulai sekarang, mandi air panas harus
dikurangi,”.

“Emang sekarang  air
PDAM mulai gak lancar ya, Hon?,” tanyanya dengan tampang serius.

“Gas mahal,” tukasku
singkat (kalo ini lebih karena permainan Pertamina, yang ngotot bahwa stok persediaan gas LPG masih sangat cukup).

“Emang seberapa mahal
sih ampe segitu pelitnya?” Tanya dia lagi, nyinyir.

“Sekarang udah delapan
lima ribu, tau,” balasku.

“Alaaah, baru juga
delapan lima, bayar cepekceng juga masih balik ban go,” tangkisnya.

“Masalahnya bukan cuma
itu, tapi gasnya juga susah, Tuan Besar,” dan terdiamlah Yang
Dipertuan Agung.

Yap, masalahnya sekarang
bukan hanya gas yang jadi mahal, tapi juga langka, mirip-mirip dengan
binatang langka gitu.

Nggak usah pake pembelaan
apapun lagi, sekarang emang susah. Dan kita punya banyak banget
alasan untuk mengeluh. Bukan hanya keluhan atas kenaikan harga.
Hampir semua hal, saat ini bisa dikeluhkan. Perhitungan insentif dan
dis-insentif listrik yang gak masuk akal (percayalah, emang bener gak
masuk akal, aku sudah tanya sejelas-jelasnya pada PLN, secara petugas
mereka sendiri bilang). Peserta UAN SMU yang tertekan dengan sistem
UAN tahun ini. Kriminalitas yang makin tinggi. Pokoke, kalo mau
ngeluh, sekaranglah saatnya, bisa tentang apapun, siapapun, kapanpun,
di mana pun, pas banget dengan slogan coca cola deh.

Aku sendiri banyak
mengeluh akhir-akhir ini, yang kalo dijabarin satu-satu, gak bakal
selesai sampe Lebaran tahun depan saking banyaknya. Mengeluh seolah
menjadi terapi untuk mengeluarkan sebagian beban meski beban itu
tetap ada di sana.

Tapi ada satu hal menarik
yang aku peroleh dalam sebuah pertemuan di awal bulan ini.

Kita mengeluh biasanya
karena kita tidak puas. Kita tidak puas karena kita tidak merasa
cukup. Kita complain karena makanan yang kita pesan tidak datang
cukup cepat. Kita complain pada pasangan karena sepertinya dia tidak
cukup mendengarkan isi hati kita. Kita complain pada perusahaan
tempat kita bekerja mungkin  karena kita tidak dibayar cukup banyak.
Kita complain pada mertua kita mungkin karena beliau tidak cukup
percaya bahwa kita dapat mengurus anaknya dengan baik. Kita complain
pada teman kita mungkin karena dia tidak cukup baik menjaga perasaan
kita hingga kita tersinggung, dan masih banayk lagi lainnya.  Soooo,
the point is about “not enough”. Sementara ternyata, kemampuan
“mencukupi” itu dapat dipelajari. This something new I know.

Seorang yang sangat
terkenal bernama Paul, berkata “…Sebab aku telah belajar
mencukupkan diri dalam segala keadaan…”. Dan dia bukan bicara
omong kosong. dalam perjalanan religiusnya,dia pernah mengalami karam
kapal lebih dari 2 kali, pernah dirampok berkali-kali, dianiaya
sangat sering, kelaparan tak terhitung, penjara menjadi tempat
langganannya karena seringnya ia berbeda pendapat dengan pemerintah
setempat dalam hal keadilan. Tapi dia juga pernah menikmati
perjalanan yang menyenangkan, berlimpah makanan dan kenyamanan. Dari
tiap situasi yang dia hadapi, dia belajar untuk merasa cukup dengan
apa yang ada.

Jika kemampuan
“mencukupi” dapat dipelajari, berarti kepuasan adalah suatu
ketrampilan dong ya.

One thing I just learned,
Rasa cukup dan kepuasan adalah suatu proses belajar, yang sangat
bergantung pada pemikiran kita, yang kita wujudkan dalam tindakan dan
kita jadikan kebiasaan, sehingga tidak tergantung pada keadaan.

Pusing kan? Sama. Pertama
mendengar ini, aku jadi tambah bingung. Ternyata maksudnya begini,
kita perlu menumbuhkan kebiasaan mengucap syukur dan merasa
beruntung. Dari pada menunggu keadaan membaik, yang entah kapan
terjadi, lebih baik menciptakan kebiasaan yang baik yang dapat
mengarah pada keadaan yang membaik. Well, make sense juga ya,
pikirku.

Tapi apa bisa kita
mengucap syukur pada saat keadaan tidak memungkinkan? Aku jadi
teringat kejadian waktu ayahku meninggal. Saat itu aku sama sekali
tak dapat mengucap syukur. Apa yang mau aku syukuri, bila lelaki yang
sangat kukagumi dan kucintai pergi tanpa pernah mengucapkan apapun
karena komanya? Satu-satunya perkataan terkahir yang kudengar darinya
adalah “ Selamat Hari Minggu ya Nak”, itupun hanya lewat telepon
karena jarak kami yang berjauhan dan itu terjadi sekitar tiga minggu
sebelum kematiannya. Baru berbulan-bulan kemudian setelah
pemakamannya, aku berhasil memaksakan diri melihat sisi baiknya. Dan
aku berhasil. Benar kata pembicara itu, seringkali,
kebiasaan-kebiasaan baik, termasuk kebiasaan mengucap syukur perlu
kita paksakan pada diri kita, karena kebiasaan bersyukur adalah suatu
ketrampilan, maka kemampuan mengucap syukur bukanlah sesuatu yang
bersifat refleks, terutama dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit.

Kepuasan ternyata juga
berhubungan erat dengan kebahagiaan. Bahkan lebih erat dari pada
orang pacaran rupanya. Jika kita menggantungkan kepuasaan kita pada
keadaan, maka akan sangat sulit bagi kita untuk merasa bahagia,
bahkan mungkin kita tidak akan pernah merasa bahagia. Aduuuuhhh,
sangat menyedihkan sekali jika kita tidak pernah merasa bahagia.

Albert Einstein berkata
,” Terima kasih atau ucapan syukur dapat menyamankan semua orang
yang mendengarnya; orang lain, diri sendiri dan TUHAN”.

Balon dapat terbang bukan
karena warna dan bentuknya tapi karena isinya. Demikian juga kita,
gak tergantung bentuk dan warna, jika kebiasaan-kbiasaan baik yang
menjadi isi hidup kita, maka kita akan baik-baik saja, begitulah kurang lebih sebagian dari isi perkataan si pembicara.

“No duty is more urgent
than that of returning thanks,” gitu kata St. Ambrose.

“Enter with the
password ‘Thank You’ make your self at home” The Message.

Aku rasa TUHAN tahu bahwa
kita lemah dalam menghafal angka, makanya DIA menciptakan kata THANK
YOU.

“Ucapan syukur adalah
surga itu sendiri,” begitu kata William Black.

“Pengucapan syukur
adalah salah satu penghancur stress yang manjur. Itu tidak perlu
resep dan…GRATIS,” Don Colbert.

Saat ini sudah disahkan 2
terapi untuk pengobatan berbagai penyakit, yaitu terapi tertawa dan
terapi mengucap syukur. Bahkan di Denmark ada 1 hari tertawa.
Rupanya, jika kita mengucap syukur, itu akan mempengaruhi perasaan
hati kita, sehingga tubuh kita kan menghasilkan suatu enzim yang
disebut enzim Serotonin yang dapat membuat mood kita menjadi baik.
That’s all I got in the meeting.

 

Terus terang, itu semua
membuatku tercengang. Dan aku memutuskan…well…tahulah yang aku
putuskan….;)))))

 

Keterangan
: identitas nama-nama di atas cari sendiri di goggle yee…

2 responses so far

May 27 2008

GAWAT KAK !!!!!

Published by blesspee under Uncategorized

 

Ada sepasang suami istri
yang memiliki 2 orang anak laki-laki, masing-masing berusia 5 dan 7
tahun. Kedua anak ini  baong banget, alias buuuadung pisan
(faktor identitas dan karakter hanya kebetulan belaka…hehehe).
Mereka seringkali bertengkar satu sama lain, atau bersama-sama
menghadapi orang/anak lain. Jika terjadi keributan di lingkungan
kompleks mereka, hampir dapat dipastikan kedua anak tersebut
terlibat. Hal ini membuat sang ibu sangat pusing menghadapi keduanya
hingga sang ibu menjadi kurus kering, meski demikian hal itu tak
mengurangi sedikitpun cinta sang bunda pada kedua jagoannya.

 

Suatu hari sang ibu
mendengar bahwa di salah satu bagian kompleks mereka ada konselor
spesialis anak-anak baong. Si ibu ingin sekali membawa kedua anaknya
ke sana. Demi menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila
keduanya dibawa bersamaan, maka sang ibu membawa sang adik terlebih
dahulu menemui konselor tersebut di pagi hari dan berencana membawa
sang kakak sore harinya.

 

Ketika bertemu dengan
sang konselor yang berperawakan tinggi dan besar, sang adik mulai
ditanyai.

“Di manakah Tuhan?”
Tanya sang konselor pada sang adik.

Sang adik terdiam.
Dahinya berkerut, tapi tak ada jawaban.

Sang konselor menatap
sang adik  dengan intens.

“Di manakah Tuhan?”
Tanya sang konselor lagi. Masih sambil menatap sang adik.

Sang adik bergeming.
Masih dengan mulut terkatup, sang adik menatap sang konselor. Tak ada
jawaban sepatah kata pun yang keluar dari bibir mungil sang adik.

Kali ini sang konselor
menatap tak berkedip dengan pandangan menusuk pada sang adik.
Wajahnya mulai menampakkan ketidaksabaran. Ada gurat kekesalan di
wajah sang konselor.

Dengan nada sedikit geram
sang konselor mengeluarkan suara yang agak bergetar.

Di manakah Tuhan!”
Tanya sang konselor dengan nada meninggi.

Tiba-tiba sang adik
berteriak keras dan berlari pulang dengan terbirit-birit. Ia segera
masuk ke dalam rumah, bersembunyi dalam kamar mandi dan duduk di
kloset dengan gemetar.

Ketika kakaknya menemukan
adiknya duduk di kloset kamar mandi dengan sangat ketakuktan, sang
kakak pun bertanya.

“Apa yang terjadi?”
Tanya sang kakak dengan mimik serius.

Sambil menarik nafas
panjang, sang adik berkata,

“Gawat Kak! Ini sangat
Gawat! Kita ada dalam masalah besar!”

“Memangnya ada apa?”
Tanya sang kakak penasaran.

Sang adik menatap sang
kakak dengan pandangan serius, lalu menjawab,

“Tuhan hilang, dan
mereka pikir kita yang menyembunyikanNya!!”

 

3 responses so far

May 14 2008

KADALUARSA

Published by blesspee under Uncategorized

TES   MAKANAN
  KADALUARSA

 

Biasanya bila kita membeli
makanan kemasan, kita akan melongok di bagian belakang atau bawah kemasan untuk
melihat tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa. Biasanya pula, tanggal yang
tercantum akan tergantung pada jenis makanannya. Bila yang bersifat cair,
seperti susu ato yoghourt, masa expired date-nya lebih pendek. Kalo yang padat,
seperti mi instant misalnya, biasanya lebih panjang.

Ternyata, selain dengan cara itu,
ada cara lain juga untuk mengetahui masa kadaluarsa suatu makanan. Gak percaya?
Peratiin baik-baik yeee…

 

Telur :
Jika sesuatu keluar dari telur, maka itu berarti masa kadaluarsa telur sudah sampai

 

Produk susu :
Susu sudah rusak jika mulai terlihat seperti yoghourt. Yoghourt sudah rusak
jika mulai terlihat seperti keju lembut. Keju lembut sudah rusak jika mulai
terlihat seperti keju biasa. Keju biasa sebenarnya adalah susu yang sudah rusak
dan tidak bisa lebih rusak lagi.

 

Mayonnaise :
Mayonnaise sudah rusak jika membuat Anda sakit perut.

 

Produk beku :
Makanan beku yang sudah menyatu dengan es, dan harus dipaksa mengambilnya
dengan menggunakan pisau, kemungkinan sudah rusak.

 

Daging :
Jika pintu kulkas terbuka dan baud aging mengundang semua lalat yang berada
dalam radiuis 3 blok rumah, maka dapat dipastikan daging sudah rusak.

 

Roti :
Jika ada bintik-bintik selain dari biji wijen, apalagi bintik-bintik yang
berambut halus, dapat dipastikan roti Anda sudah rusak.

 

Gandum :
Gandum sudah rusak jika terlihat dia bisa bergerak-gerak sendiri.

 

Kismis :
Kismis sudah rusak jika ia lebih keras dari gigi Anda.

 

Sereal :
ini adalah aturan umumnya, sereal harus dibuang jika sudah melampaui 2 tahun
dari tanggal kadaluarsanya.

 

Wortel :
Wortel sudah rusak jika cengkeh dengan mudah dapat ditusukkan ke dalamnya.

 

 

Masih nggak yakin? Coba aja…

 

One response so far

May 07 2008

Perlu Simulasi…????

Published by blesspee under Uncategorized


 Dulu, waktu aku
masih duduk di bangku sekolah dasar kelas lima,
kalo nggak salah berarti sekitar tahun 1986-an (walah, jadul amat yah), pertama
kali aku dengar orang bilang “Sekarang
ini jaman edan”
. Waktu itu sih aku nggak ngerti maksudnya “Jaman edan”,
walau aku tahu, edan itu artinya gila (sekarang tentulah aku tahu maksudnya).
Dan ketika kuperhatikan orang-orang di sekitarku, rasanya aku nggak melihat
pertambahan jumlah orang gila. Jadi, waktu itu kupikir, itu adalah obrolan
orang dewasa yang sekadar ngomong. Lagipula, analisa model apa yang diharapkan
dari seorang anak berusia sebelas tahun yang merasa bahwa dunianya hanya
seputar mama, papa, adik-adik, teman-teman sekolah, dan PR and such of things?

        Sepuluh tahun
kemudian, berarti sekitar tahun 1996, aku mendengar hal lain lagi. Ternyata, “Jaman Edan” itu sudah bertambah teman
menjadi “Jaman Susah” menjadi Jaman
Edan dan Susah".
Pada tahun itu,
krisis moneter di mulai. Dan si anak kelas lima sekolah dasar yang sudah nggak kelas lima lagi itu kali ini mulai tahu
apa artinya, bahkan mulai merasakan efeknya. Ongkos angkot dari tempat kost ke
kampus mulai naik, biaya photo copy materi kuliah yang nggak sama seperti
sebelumnya, uang SKS yang mengalami penyesuaian, dan tentu saja, uang untuk
makan yang jadi lebih besar, sementara kenaikan-kenaikan itu semua ternyata
nggak berbanding lurus dengan pendapatan uang saku dari orang tua di kampung
halaman (padahal aku tingal di tengah kota
lho). Mamaku selau bilang, “Belajar berhemat dan prihatin ya Nak” tiap kali dia
mentransfer uang bulananku. Well, what can I say? Saat itu aku berharap
-seperti semua orang lain di Indonesia-  keadaan ekonomi negara tercinta ini segera
bangkit, supaya aku nggak perlu sakit kepala mengatur agar uang saku bulananku
dapat bertahan hingga uang saku berikutnya tiba. Hasilnya : Tau sendiri ‘kan?.

        Aku ingat, waktu
BBM naik yang terakhir kali, hari-hari pertama angkot di Bandung banyak yang kosong. Sepertinya orang banyak yang mengurangi frekuensi menggunakan
angkutan umum ini. Aku sempat bilang pada My Honey Bunny ,”Wah ada enaknya juga
bensin naik, Bandung
jadi rada sepi, jalanan jadi rada lega (kosong bo’). Tapi Hubby-ku sempat
bilang,” Mereka hanya perlu waktu untuk shock sebentar. Liat aja, bentar lagi
juga mereka rame-rame lagi naek angkot”. Nggak perlu waktu lama untuk
membuktikan bahwa apa yang dikatakannya benar. Angkot-angkot segera penuh
kembali, jalanan mulai macet lagi, bahkan mal-mal baru mulai bermunculan di kota ini.

Itu dulu.
Sekarang awal Mei 2008. Setelah 12 tahun berlalu, suara-suara yang mengatakan
bahwa “Sekarang ini jaman susah” mulai ada perubahan, menjadi “Sekarang
ini jaman edan yang makin susah, apa-apa serba mahal, nyari uang tambah susah,
orang gila makin banyak, bla…bla…bla…”
yang kalo diterusin gak bakal
cukup 10 lembar kertas ukuran A4. Belum juga bensin naek, baru beritanya aja,
harga-harga sudah naek. Nyuri start nih ceritanya (emangnya cuma para pelaku kampanye aja yang bisa nyuri start?) mengingat rencana kenaikan
bensin per awal Juni. Kenaikan bensin seolah juga mau melengkapi drama
kelangkaan minyak tanah dan gas elpiji, sementara Pertamina tetap ngotot bahwa
mereka mensuply cukup. Semua itu nggak termasuk efek-efek lain yang bakal
segera menyusul, dan bisa dipastikan bukanlah efek yang akan disambut dengan
suka cita.

 Aku bukan ahli
ekonomi yang tahu bagaimana mengatur ekonomi makro dan mikro (definisi ekonomi makro dan mikro aja aku udah lupa sekarang). Aku juga bukan
orang pinter yang tahu bagaimana seharusnya sebuah negara besar diatur lewat
undang-undang dan sejenisnya, seperti yang dilakukan para Bapak-Ibu terhormat
di tempat yang Nun Jauh dalam sebuah gedung yang disebut Gedung Rakyat. Aku
hanya seorang ibu rumah tangga yang
cukup pusing mengatur negaraku sendiri padahal rakyatnya cuma dua orang. Yang
harus mengusahakan agar tiap “hutang luar negeri”ku terbayar tepat waktu
sehingga nggak menimbulkan denda dan embargo dari pihak provider jasa. Yang harus berusaha bersikap bijak terhadap kepala
negara”
dan masyarakat negara lain”, yang suka
buat ulah. Yang harus menjaga hubungan baik dengan para “Negara Tetangga”. Yang aku tahu, jika dalam “negara”ku
ada cukup makanan sehingga merasa kenyang, maka “rakyat”ku (baca: suami) nggak banyak
protes. Aku pikir, mungkin - hanya mungkin - bila NEGARA
BESAR
ini dapat menyediakan cukup “makanan”, maka RAKYAT-nya mungkin akan
kehabisan alasan untuk protes.

 Aku jadi
teringat game computer yang sering aku mainkan. Stronghold merupakan jenis
permainan yang bersifat strategi, di mana kita jadi pemimpin dalam wujud
seorang raja. Tiap campaign memiliki skenario sendiri dan target yang harus
dicapai. Mulai dari menyiapkan persediaan makan dalam jumlah tertentu hingga
menghancurkan negara lain. Yang aku pelajari dari tiap campaign adalah bahwa
bila dalam kerajaanku cukup makanan, maka negaraku akan sangat berkembang,
penduduknya banyak, akibatnya pajak yang aku terima juga akan besar sehingga
aku dapat membangun pertahanan yang canggih dan membuatku bisa menguasai negara
lain, termasuk seluruh sumber daya. Aku rasa aku boleh berbangga karena aku
berhasil menyelesaikan tiap campaign, dan membuatku menjadi raja favorite (salah satu alasan utamaku sangat menyukai game ini, hehehe),
tentu saja dalam game PC. Dan sekarang aku jadi penasaran, apa mungkin para
pemimpin negeri ini perlu main Stronghold dulu supaya bisa lebih ahli dalam mengatur Negeri ? Semacam simulasi begitu?

 
However, I
do love my country, so much, and pray for the best.

No responses yet

Feb 15 2008

Ternyata….

Published by blesspee under Uncategorized

Lelaki mengendarai kendaraan bermotor,entah itu sepeda motor, mobil, angkot, truk, angkot, bis, boat, kapal, pesawat, itu biasa, sudah lazim. Jika di bengkel motor ato mobil lebih banyak lelaki yan terlihat, entah montir ato yang punya kendaraan yang akan dan lagi diservis, itu biasa. Lelaki banyak yang ahli ngotak-ngatik komputer, baik software ato harware, itu juga biasa. Jika  lebih banyak  lelaki yang tampak monda-mandir di lingkungan yang sedang ada pembangunan, entah itu si mandor ato tukangnya, itu juga biasa. Kalo kita mo servis alat elektronik kita, biasanya yang ngerjain juga lelaki. Bahkan, untuk urusan jadi koki, banyak juga yang lelaki. Sepertinya lelaki emang ditakdirkan dapat melakukan banyak hal.

Waktu aku SMA, aku dan temanku lumayan getol belajar mobil, bukan karena emang kita sudah perlu belajar nyetir mobil, tapi lebih karena keren aja. Cewek, masih SMA, cakep pula (  :,))  ) bawa mobil yang lumayan oke, rasanya bener-bener buat pasaran jadi naik. Setidaknya, pada masa aku masih SMA, itu termasuk hal keren dong, karena pada saat itu, perempuan yang bisa bawa kendaraan roda empat belum banyak, lebih banyak yah…lelaki.
Salah satu temanku pernah berujar, "Kalo buat cowok,  bawa mobil itu seperti otomatis bisa tanpa perlu belajar..", saking sudah me-naluri-nya kemampuan itu. Waktu itu aku sih manggut-manggut setuju aja, sambil mikir, "kayaknya iya ya…".

Urusan elektronik juga demikian. Aku membuktikannya sendiri melalui ayahku. Ayahku bukan sarjana elektro, dia hanya pegawai sebuah BUMN biasa di Palembang. Tapi dia sangat jago soal elektrik dan elektronik. Waktu jaman aku SMA, yang namanya Home Theatre bukan hal yang biasa, tapi ayahku bisa merangkai-rangkai peralatan elektroniknya sedemikian rupa sehingga jika kami sekeluarga nonton film atau ber-karaoke, sound-nya nggak bisa dianggap enteng. Begitu juga jika ada bagian listrik di rumah kami yang nggak beres, ayahku dapat dengan gampang menanganinya. Beliau pula yang dengan sengaja mengajariku bagaimana menyambung  kabel listrik yang satu ke kabel listrik yang lain, atau mengganti stop kontak yang rusak, atau membuat suatu ruangan ada aliran listriknya, or somehing (sampai-sampai aku curiga dia sebenarnya menginginkan anak lelaki..:p)

Ketika sepeda menjadi barang yang digandrungi oleh aku dan teman-temanku ketika kami berumur 8-11 tahun, jika ada masalah dengan sepeda salah satu dari kami, atau salah dua, teman-teman lelakikulah yang akan membantu memperbaikinya, misalnya stang sepeda yang bengkok, rantai yang lepas, atau sadel yang kurang tingi atau kurang pendek, atau ayah mereka.

Keluarga temanku Dian punya banyak sekali peliharaan ayam, ada bapak ayam, ibu ayam, dan banyak sekali anak ayam. Mereka perlu rumah untuk berteduh, dan tebak sapa yang mebuat rumah bagi keluarga ayam itu? Right, ayah Dian. Demikian juga dengan rumah anjing pertamaku, Brownie, ayahku yang membuatnya. So, it seems that they are expert in make buliding too.

Dengan suasana seperti itu, aku tumbuh dengan pemikiran bahwa lelaki memang menguasai hal-hal seperti itu, dan aku mulai mengkotak-kotakkan Men’s Things dan Women’s Things, apa yang menjadi keahlian lelaki dan apa yang menjadi keahlian wanita. Hingga tiba saatnya aku mengenal lelaki yang kini jadi suamiku. Booommmm!!!
Ketika kami dan saudara-saudara iparku, lelaki dan perempuan lengkap dengan kedua keponakan kecilku, bersepuluh orang, TERNYATA hanya ada 2 orang yang dapat menyetir mobil, suami kakaknya dan aku, alhasil aku dan suami sang kakaklah yang gantian bawa mobil. Ketika salah satu stop kontak di rumah kami rusak sehingga tak dapat dipergunakan, suamiku malah ketakutan kena setrum, dan marah besar ketika tahu ternyata aku yang menggantinya dengan stop kontak yang baru (tentu saja dia takut istri tercintanya kesetrum). Ketika kami membeli meja komputer yang bongkar pasang, suamiku kebingungan bagaimana cara membuat potongan-potongan kayu dan mur-mur itu dapat membentuk sebuah meja. Ketika suatu hari ia membeli speaker, kembali suami tercintaku sama sekali tidak tahu bagaimana agar suara dari tv dan player dapat keluar melalui speaker barunya. HHmmmm…

Ternyata, tidak semua lelaki dapat mengendarai kendaraan secara otomatis, tidak semua lelaki megerti elektrik dan elektronik, tidak semua lelaki mengerti mesin, tidak semua lelaki  mengerti… Men’s Things.

Ternyata juga, hal-hal yang tidak dikuasai suamiku sebagai lelaki tidak membuatku berhenti mencintainya, bahkan membuatku semakin yakin, dia memang membutuhkanku untuk melengkapi hidupnya. I Love You, D…

No responses yet

Jan 31 2008

A Price Of Learning

Published by blesspee under Uncategorized

Bukan hanya makanan yang ada harganya, atau baju, atau nonton bioskop, atau kenyamanan, atau apapun yang bersedia kita bayar untuk mendapatkan apa yang kita mau. Belajar juga ternyata ada harganya, tentu saja yang dimaksud di sini bukan belajar pelajaran sekolah, atau pelajaran kuliah, dan bukan hanya uang yang dijadikan alat pembayaran -bahkan tidak jarang kita nggak perlu keluar duit- tetapi juga waktu, tenaga, pikiran, dan emosi.

Waktu sih, okelah, karena kita mungkin nggak terlalu punya banyak kegiatan. Tenaga juga, cincailah, karena kita punya waktu istirahat yang teratur dan makan makanan sehat, tenaga kita sip banget deh. Pikiran, karena otak kita sering di"semir", jadi kinclong abis. Emosi, nah, ini yang suka jadi masalah. Ternyata, ngatur emosi nggak segampang itu juga, belum lagi kalau kita tipe moody, walah…susahnya. Lebih mudah ngatur jet coster ng-kali…
Akibatnya…korban perasaan deh… Sekali lagi, untuk belajar berkorban perasaan, ada harga lain lagi yang harus dibayar. Kedengarannya jadi seperti lingkaran setan.
Tapi orang bijak bilang…Life Is A Process Of Learning

One response so far