Jun 12 2008
MORE THANKSGIVING
Dampak kenaikan BBM
sungguh luar biasa. Tapi emang sejak dulu situasi pasca kenaikan BBM
selalu heboh kok. Mungkin bedanya, kalo dulu, gak lama setelah
kebijakan diumumkan, meski menimbulkan banyak demo tapi biasanya
tidak cukup lama. Kali ini agak sedikit berbeda. Aksi menentang
kebijakan ini masih berlangsung hingga kini.
Yah, dampak kebijakan
rasanya cukup jelas terlihat, nggak perlu lagi deh diulang-ulang.
Kalo bahasa Fisika waktu masih sekolah dulu : berbanding lurus, naik
BBM naik pula segala macam ongkos (kecuali gaji, kayaknya belum ada
perubahan tuh). Beras yang biasanya kubeli dengan harga Rp. 5.800/kg
sekarang sudah jadi Rp. 6.000/kg. Dulu dengan Rp. 20.000 bisa dapet
minyak goreng merk Tropical 2lt, sekarang…weleh weleh, kudu nambah
Rp. 6.950 dulu baru barangnya bisa dibawa pulang. Itu harga di
supermarket, harga di pasar tradisional bisa lebih mahal. Katanya, di
supermarket bisa lebih murah karena “Kami membeli dalam jumlah
lebih banyak”. Ada-ada aja. Pernah juga waktu suatu kali aku ke
pasar, aku bermaksud beli rempeyek kacang kesukaanku. Sambil
milih-milih rempeyek kacang, aku bertanya “ Rempeyeknya berapa,
Teh?”
Si Teteh berkerudung
berkata, “Biasa Teh, sekarang masih empat ribu, tapi besok sudah
naik, kan bensin naik,” jawabnya ringan.
Aku menatap pada si Teteh
penjual, takjub dengan kegesitannya menghitung harga pokok produksi
rempeyek jualannya, sambil berkata dalam hati “Tobat deh beli
rempeyek ini, lebih mahal dari harga tempe”.
Hampir semua harga barang
sekarang mulai “bermekaran”, apa lagi alasannya kalo bukan
kenaikan BBM.
Kakak iparku belakangan
ini lumayan sering mengeluh, “ Pusing aku, sekarang apa-apa sudah
naik, tapi gaji gak naik-naik, gimana mau nabung, untuk hidup aja
pontang-panting,”.
Balum lama ini aku sudah
wanti-wanti ke my hubby, “Mulai sekarang, mandi air panas harus
dikurangi,”.
“Emang sekarang air
PDAM mulai gak lancar ya, Hon?,” tanyanya dengan tampang serius.
“Gas mahal,” tukasku
singkat (kalo ini lebih karena permainan Pertamina, yang ngotot bahwa stok persediaan gas LPG masih sangat cukup).
“Emang seberapa mahal
sih ampe segitu pelitnya?” Tanya dia lagi, nyinyir.
“Sekarang udah delapan
lima ribu, tau,” balasku.
“Alaaah, baru juga
delapan lima, bayar cepekceng juga masih balik ban go,” tangkisnya.
“Masalahnya bukan cuma
itu, tapi gasnya juga susah, Tuan Besar,” dan terdiamlah Yang
Dipertuan Agung.
Yap, masalahnya sekarang
bukan hanya gas yang jadi mahal, tapi juga langka, mirip-mirip dengan
binatang langka gitu.
Nggak usah pake pembelaan
apapun lagi, sekarang emang susah. Dan kita punya banyak banget
alasan untuk mengeluh. Bukan hanya keluhan atas kenaikan harga.
Hampir semua hal, saat ini bisa dikeluhkan. Perhitungan insentif dan
dis-insentif listrik yang gak masuk akal (percayalah, emang bener gak
masuk akal, aku sudah tanya sejelas-jelasnya pada PLN, secara petugas
mereka sendiri bilang). Peserta UAN SMU yang tertekan dengan sistem
UAN tahun ini. Kriminalitas yang makin tinggi. Pokoke, kalo mau
ngeluh, sekaranglah saatnya, bisa tentang apapun, siapapun, kapanpun,
di mana pun, pas banget dengan slogan coca cola deh.
Aku sendiri banyak
mengeluh akhir-akhir ini, yang kalo dijabarin satu-satu, gak bakal
selesai sampe Lebaran tahun depan saking banyaknya. Mengeluh seolah
menjadi terapi untuk mengeluarkan sebagian beban meski beban itu
tetap ada di sana.
Tapi ada satu hal menarik
yang aku peroleh dalam sebuah pertemuan di awal bulan ini.
Kita mengeluh biasanya
karena kita tidak puas. Kita tidak puas karena kita tidak merasa
cukup. Kita complain karena makanan yang kita pesan tidak datang
cukup cepat. Kita complain pada pasangan karena sepertinya dia tidak
cukup mendengarkan isi hati kita. Kita complain pada perusahaan
tempat kita bekerja mungkin karena kita tidak dibayar cukup banyak.
Kita complain pada mertua kita mungkin karena beliau tidak cukup
percaya bahwa kita dapat mengurus anaknya dengan baik. Kita complain
pada teman kita mungkin karena dia tidak cukup baik menjaga perasaan
kita hingga kita tersinggung, dan masih banayk lagi lainnya. Soooo,
the point is about “not enough”. Sementara ternyata, kemampuan
“mencukupi” itu dapat dipelajari. This something new I know.
Seorang yang sangat
terkenal bernama Paul, berkata “…Sebab aku telah belajar
mencukupkan diri dalam segala keadaan…”. Dan dia bukan bicara
omong kosong. dalam perjalanan religiusnya,dia pernah mengalami karam
kapal lebih dari 2 kali, pernah dirampok berkali-kali, dianiaya
sangat sering, kelaparan tak terhitung, penjara menjadi tempat
langganannya karena seringnya ia berbeda pendapat dengan pemerintah
setempat dalam hal keadilan. Tapi dia juga pernah menikmati
perjalanan yang menyenangkan, berlimpah makanan dan kenyamanan. Dari
tiap situasi yang dia hadapi, dia belajar untuk merasa cukup dengan
apa yang ada.
Jika kemampuan
“mencukupi” dapat dipelajari, berarti kepuasan adalah suatu
ketrampilan dong ya.
One thing I just learned,
Rasa cukup dan kepuasan adalah suatu proses belajar, yang sangat
bergantung pada pemikiran kita, yang kita wujudkan dalam tindakan dan
kita jadikan kebiasaan, sehingga tidak tergantung pada keadaan.
Pusing kan? Sama. Pertama
mendengar ini, aku jadi tambah bingung. Ternyata maksudnya begini,
kita perlu menumbuhkan kebiasaan mengucap syukur dan merasa
beruntung. Dari pada menunggu keadaan membaik, yang entah kapan
terjadi, lebih baik menciptakan kebiasaan yang baik yang dapat
mengarah pada keadaan yang membaik. Well, make sense juga ya,
pikirku.
Tapi apa bisa kita
mengucap syukur pada saat keadaan tidak memungkinkan? Aku jadi
teringat kejadian waktu ayahku meninggal. Saat itu aku sama sekali
tak dapat mengucap syukur. Apa yang mau aku syukuri, bila lelaki yang
sangat kukagumi dan kucintai pergi tanpa pernah mengucapkan apapun
karena komanya? Satu-satunya perkataan terkahir yang kudengar darinya
adalah “ Selamat Hari Minggu ya Nak”, itupun hanya lewat telepon
karena jarak kami yang berjauhan dan itu terjadi sekitar tiga minggu
sebelum kematiannya. Baru berbulan-bulan kemudian setelah
pemakamannya, aku berhasil memaksakan diri melihat sisi baiknya. Dan
aku berhasil. Benar kata pembicara itu, seringkali,
kebiasaan-kebiasaan baik, termasuk kebiasaan mengucap syukur perlu
kita paksakan pada diri kita, karena kebiasaan bersyukur adalah suatu
ketrampilan, maka kemampuan mengucap syukur bukanlah sesuatu yang
bersifat refleks, terutama dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit.
Kepuasan ternyata juga
berhubungan erat dengan kebahagiaan. Bahkan lebih erat dari pada
orang pacaran rupanya. Jika kita menggantungkan kepuasaan kita pada
keadaan, maka akan sangat sulit bagi kita untuk merasa bahagia,
bahkan mungkin kita tidak akan pernah merasa bahagia. Aduuuuhhh,
sangat menyedihkan sekali jika kita tidak pernah merasa bahagia.
Albert Einstein berkata
,” Terima kasih atau ucapan syukur dapat menyamankan semua orang
yang mendengarnya; orang lain, diri sendiri dan TUHAN”.
Balon dapat terbang bukan
karena warna dan bentuknya tapi karena isinya. Demikian juga kita,
gak tergantung bentuk dan warna, jika kebiasaan-kbiasaan baik yang
menjadi isi hidup kita, maka kita akan baik-baik saja, begitulah kurang lebih sebagian dari isi perkataan si pembicara.
“No duty is more urgent
than that of returning thanks,” gitu kata St. Ambrose.
“Enter with the
password ‘Thank You’ make your self at home” The Message.
Aku rasa TUHAN tahu bahwa
kita lemah dalam menghafal angka, makanya DIA menciptakan kata THANK
YOU.
“Ucapan syukur adalah
surga itu sendiri,” begitu kata William Black.
“Pengucapan syukur
adalah salah satu penghancur stress yang manjur. Itu tidak perlu
resep dan…GRATIS,” Don Colbert.
Saat ini sudah disahkan 2
terapi untuk pengobatan berbagai penyakit, yaitu terapi tertawa dan
terapi mengucap syukur. Bahkan di Denmark ada 1 hari tertawa.
Rupanya, jika kita mengucap syukur, itu akan mempengaruhi perasaan
hati kita, sehingga tubuh kita kan menghasilkan suatu enzim yang
disebut enzim Serotonin yang dapat membuat mood kita menjadi baik.
That’s all I got in the meeting.
Terus terang, itu semua
membuatku tercengang. Dan aku memutuskan…well…tahulah yang aku
putuskan….;)))))
Keterangan
: identitas nama-nama di atas cari sendiri di goggle yee…